Tampilkan postingan dengan label Seputar Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Tradisi Pesta Pernikahan di Indonesia

, by Unknown



Pernikahan yang digelar di Indonesia menyelipkan upacara adat, seperti berebut daging ayam dan menginjak telur. Sebenarnya apa maksud dari adat atau tradisi tersebut? Adakah hubungannya dengan kehidupan pernikahan nantinya?

Berikut ini arti di balik beberapa tradisi yang kerap dilakukan dalam pesta-pesta pernikahan di Indonesia:

Merpati
Dalam rangkaian tata cara sabda nikah pada prosesi pernikahan adat Sunda, yang dilakukan saat hari-H, terdapat acara Melepas Merpati (Ngaleupaskeun Japati). Dalam prosesi ini, ibu kedua mempelai berjalan keluar sambil masing-masing membawa burung merpati. Ibu mempelai wanita membawa merpati betina, sementara ibu mempelai pria membawa merpati jantan, kemudian dilepaskan terbang di halaman. Tradisi ini melambangkan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

Pintu
Dalam rangkaian tata cara sabda nikah pada prosesi pernikahan adat Sunda, yang dilakukan saat hari-H, terdapat acara Buka Pintu. Dalam pernikahan adat Minahasa, dikenal dengan upacara Toki Pintu (maso minta).

Sebelum memasuki rumah keluarga pengantin wanita, pengantin pria harus mengetuk pintu tiga kali. Upacara ini memiliki makna penting khususnya dalam kehidupan bertetangga. Sebelum bergaul dengan tetangga, kita tentu harus membuka pintu terlebih dahulu agar diterima sebagai bagian dari lingkungan kita.

Sapu Lidi
Dalam prosesi pernikahan adat Sunda yang dilakukan satu hari sebelum hari-H, terdapat acara Dikeprak (dipukul pelan-pelan) dengan sapu lidi, yang menjadi bagian dari upacara Ngeuyeuk Seureuh. Makna yang terkandung di dalamnya adalah agar kedua mempelai saling memupuk kasih sayang dan giat bekerja.

Selain itu, dalam prosesi pernikahan adat Sunda yang dilakukan saat hari-H, ada juga acara Membakar Harupat (lidi). Harupat (Lidi) adalah lambang sifat lelaki yang keras. Sikap pemarah lelaki yang digambarkan dengan nyala lidi. Api amarah lelaki itu menjadi padam ketika disiram dengan air kelembutan seorang wanita. 

Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa sifat-sifat pemarah dan tak terpuji (getas harupateun) bagi lelaki yang akan menjadi tiang dan kepala rumah tangga itu harus segera dihilangkan sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Uang Logam
Dalam puncak dari serangkaian acara prosesi pernikahan adat Jawa Solo, yang menjadi bagian dari upacara Panggih terdapat acara Kacar-kucur. Dilaksanakan setelah upacara ijab, di mana kedua mempelai telah dianggap sah menjadi suami istri. Saat acara tersebut, mempelai pria mengucurkan penghasilan kepada mempelai wanita berupa uang receh beserta kelengkapannya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah mempelai pria bertanggung jawab memberi nafkah pada keluarga.

Selain itu ada juga Sawer atau Nyawer. Asal kata nyawer adalah awer dan ibarat seember benda cair yang biasa di-uwar-awer (ditebar-tebar). Dulu hanya dilakukan terhadap salah satu pengantin saja, tapi sekarang dilakukan kepada kedua mempelai di luar kediaman mempelai wanita. Dan yang disawerkan adalah campuran beras, uang logam, kunyit, dan permen. Makna yang lebih dalam dari ritual ini adalah menebar nasihat kepada kedua mempelai sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Ayam
Adanya ayam pada semua upacara adat pernikahan biasanya bukan ayam hidup atau ayam mentah tapi sudah dimasak. Dalam prosesi pernikahan adat Minangkabau, tradisi yang dilakukan usai akad nikah terdapat acara Mangaruak Nasi Kuniang. Di mana kedua mempelai berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning. Makna yang terkandung di dalamnya adalah hubungan kerjasama antara suami istri harus saling menahan diri dan harus saling melengkapi.

Sedangkan dalam prosesi pernikahan adat Sunda yang dilakukan saat hari-H, terdapat acara Huap Lingklung atau Huap Deudeuh (kasih sayang). Diawali dengan kedua mempelai disuapi oleh kedua orang tuanya masing-masing. Kemudian kedua mempelai saling menyuapi. Acara Huap Lingklung diakhiri dengan saling menarik (pabetot-betot) bakakak ayam (ayam utuh yang dibakar).

Makna yang lebih dalam dari Huap Lingklung adalah sebagai tanda kasih sayang. Sedangkan makna yang terkandung dalam pabetot-betot bakakak ayam adalah sebagai simbol rezeki, siapa yang mendapatkan potongan ayam terbesar konon yang akan membawa rejeki lebih banyak. Dan setelah itu ayam dimakan bersama, maknanya adalah rezeki yang diperoleh harus dinikmati bersama.

Telur & Kendi
Dalam puncak dari serangkaian acara prosesi pernikahan adat Jawa Solo, yang menjadi bagian dari upacara panggih terdapat acara Ngidak Endhog. Dilaksanakan setelah upacara ijab, di mana kedua mempelai telah dianggap sah menjadi suami istri. Saat acara tersebut, pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita dengan kendi. Makna yang terkandung di dalamnya adalah sebagai simbol seksual kedua mempelai sudah pecah pamornya.

Sedangkan dalam proses pernikahan Adat Sunda, tradisi itu dinamai Nincak Endog. Prosesinya sama dengan Ngidak Endhog di atas. Makna yang terkandung adalah sebagai simbol keturunan. Telur adalah lambang segala awal kehidupan dan simbol kesuburan. Bila dalam acara tersebut telur yang diinjak pecah, maka pengantin akan segera  mendapatkan keturunan. Sementara mencuci kaki melambangkan penyucian diri dari segala hal negatif.
read more

PERNIKAHAN

, by Unknown




Pernikahan atau adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatanperkawinan secara norma agamanorma hukum, dan norma sosialUpacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisisuku bangsaagamabudaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.
Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani.Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluargaWanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan.

Etimologi
Pernikahan adalah bentukan kata benda dari kata dasar nikah; kata itu berasal dari bahasa Arab yaitu kata nikkah(bahasa Arabالنكاح ) yang berarti perjanjian perkawinan; berikutnya kata itu berasal dari kata lain dalam bahasa Arab yaitu kata nikah (bahasa Arabنكاح) yang berarti persetubuhan.


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan

read more

MOBIL PENGANTIN UNIK

, by Unknown


Tidak lengkap jika pesta pernikahan tanpa mobil pengantin. Mobil pengantin yang umum sudah tentu sering kita lihat, tapi bagaimana dengan pendekorasian mobil pengantin agar terlihat unik dan lucu?
Tidak perlu menggunakan mobil yang berharga mahal untuk yang satu ini.
Berikut beberapa dekorasi mobil pengantin unik yang saya temukan di google search.






read more

SEJARAH DAN MAKNA BUNGA TANGAN PERNIKAHAN

, by Unknown

Bagi calon pengantin, memilih bunga tangan pernikahan yang sesuai dengan tema dan kepribadiannya merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan paduan serasi dengan gaun atau kebaya pernikahannya. Namun tidak banyak calon mempelai yang mengerti sejarah dan makna bunga tangan pernikahan sesungguhnya.

Kebiasaan mempelai wanita membawa rangkaian hand bouquet saat pernikahan tercipta sejak jaman kuno. Saat itu, perempuan membawa rangkaian beraroma bawang putih, bumbu dan rempah-rempah dengan maksud mengusir roh jahat. Di Yunani dan Roma, pengantin umumnya mengalungkan rangkaian bunga di lehernya sebagai simbol hidup baru, harapan dan kesuburan. Sedangkan buket tradisional Celtic memadukan ivy, thistle dan heather. Rangkaian bunga jaman kuno tidak benar-benar terbuat dari bunga, namun dari berbagai bumbu berbau tajam dan rempah-rempah dengan bau menyengat dengan tujuan mengusir roh jahat.
Tradisi tersebut berubah ketika Ratu Victoria menikah dengan Pangeran Albert. Bunga tangan pengantin yang awalnya terdiri dari rempah dan bumbu, diganti dengan bunga segar terutama jenis marigold serta beberapa jenis bunga yang dapat dikonsumsi. Mempelai wanita akan membawa rangkaian buket pengantin saat menuju altar. Kemudian, beberapa bagian dari bunga tangan pengantin seperti adas (yang juga dikenal sebagai ramuan pembangkit gairah) akan dimakan oleh kedua mempelai beserta tamu yang hadir saat resepsi pernikhan berlangsung.
Di jaman Victoria, bunga menjadi pembawa pesan bagi sepasang kekasih. Setiap bunga dianggap memiliki arti masing-masing. Kepercayaan mengenai ‘bahasa bunga’ tersebut dimulai di Turki pada abad ke 17. Sepasang kekasih mulai saling mengirim bunga untuk menyampaikan pesan cintanya. Demikian juga jenis bunga yang akan digunakan pada bunga tangan pengantin dipilih berdasarkan arti tradisional mereka.
Sayangnya, banyak bunga yang cantik diberi arti yang negatif. Banyak mempelai yang menghindari jenis bunga-bunga yang berarti negatif tersebut saat memilih bunga untuk rangkaian bunga tangan maupun dekorasi pernikahannya. Arti dari masing-masing bunga tersebut didasarkan pada ilmu yang dikenal dengan sebutan Florigraphy atau ‘bahasa bunga’. Banyak pencinta bunga yang menekankan arti bunga tersebut saat mengirim atau menerima kiriman bunga.

Arti Beberapa Jenis Bunga Dalam Rangkaian Buket Pernikahan
Tahukah Anda bahwa magnolia memiliki arti cinta akan alam? Atau bunga stephanotis berarti pernikahan bahagia? Berikut ini tersaji beberapa jenis bunga yang biasa digunakan untuk merangkai bunga tangan pernikahan beserta artinya:

Bunga Tangan Anemone
Bunga tanpa aroma ini memiliki makna harapan dan biasanya digunakan untuk merangkai bunga tangan maupun dekorasi pernikahan. Bunga anemone umumnya tumbuh liar di beberapa negara Eropa, Amerika Utara dan Jepang. Saat mekar dapat berbentuk bunga tunggal atau ganda. Harga jenis bunga ini di kisaran menengah.

Bunga Tangan Baby Breath
Mengandung makna murni / tak berdosa, baby breath umum digunakan untuk pengisi buket pengantin atau korsase. Bunga yang tidak memiliki aroma ini hadir sepanjang tahun dengan harga terjangkau

Bunga Tangan Calla Lily
Bunga pernikahan yang sangat bergaya ini mencerminkan arti kecantikan luar biasa. Calla lily menambahkan unsur elegan dan keanggunan suatu pernikahan dan dapat digunakan tanpa paduan bunga lainnya untuk menciptakan bunga tangan pernikahan yang sederhana namun elegan. Bunga yang memiliki aroma harum yang lembut ini juga cocok untuk melengkapi dekorasi gedung pernikahan Anda. Sayangnya, Calla lily yang banyak ditemui pada musim semi dan musim panas ini memiliki kisaran harga yang cukup mahal.

Bunga Tangan Carnation
Bunga carnation memiliki arti berbeda-beda berdasarkan warnanya. Carnation merah muda merupakan simbol keberanian, merah simbol cinta dan putih mencerminkan talenta. Namun beberapa carnation berwarna tertentu memiliki konotasi negatif. Bunga yang memiliki aroma sangat lembut atau bahkan sama sekali tidak beraroma ini cocok untuk paduan dalam bunga tangan pengantin, korsase atau dekorasi gedung pernikahan. Keunggulan lainnya adalah bunga carnation mudah ditemukan sepanjang tahun dan memiliki harga yang ekonomis.

Bunga Tangan Chrysanthemum
Bermakna kemakmuran, kelimpahan dan kebenaran, mum sangat cocok sebagai bunga tangan atau untuk mendekorasi gedung pernikahan Anda. Bunga tanpa aroma ini hadir sepanjang tahun dengan kisaran harga yang cukup murah. Biasanya mum terdiri dari berbagai variasi ukuran dan warna. Secara harafiah, nama bunga ini mengandung arti ‘bunga emas’.

Bunga Tangan Daisy
Bunga daisy sangat pas sebagai salah satu bagian dalam rangkaian bunga tangan pengantin. Bunga bermakna ‘berbagi rasa’ ini tidak beraroma dan mudah ditemukan sepanjang tahun dengan harga ekonomis.

Bunga Tangan Freesia
Bunga yang sangat harum ini bermakna murni / tak berdosa. Freesia banyak ditemui pada musim semi dan musim panas. Saat musimnya, bunga jenis ini akan dibanderol dengan harga yang bersahabat.

Bunga Tangan Gardenia
Memiliki arti kemurnian dan kebahagiaan, gardenia sangat pas dipakai dalam rangkaian bunga tangan pengantin. Dengan bau harumnya yang memikat, bunga ini mudah ditemui sepanjang tahun – namun dijual dengan harga yang cukup mahal.

Bunga Tangan Hydrangea
‘Pengertian’, tentunya sifat yang dirindukan oleh masing-masing pasangan. Bunga dengan makna yang sama ini tidak memiliki aroma dan umumnya ditemui di musim semi dan gugur. Meskipun dijual di kisaran harga yang cukup mahal, bunga ini cocok untuk menjadi salah satu elemen rangkaian bunga tangan dan dekorasi pernikahan.

Bunga Tangan Lily
Bunga yang memiliki aroma harum ini umum ditemukan di musim panas dengan harga jual menengah hingga mahal. Lily yang bermakna yang keagungan, kejujuran dan kehormatan ini sangat pas digunakan untuk rangkaian bunga tangan pengantin dan dekorasi gedung pernikahan.

Bunga Tangan Lily of the Valley
Berarti kebahagiaan, jenis bunga yang harum ini tepat dipilih sebagai padanan serasi dengan bunga lainnya dalam rangkaian bunga tangan pengantin khususnya pada pernikahan tradisional. Bunga yang berharga mahal tersebut biasanya banyak ditemukan pada musim semi dan musim panas dalam bentuk kecil, mudah hancur, berpotongan seperti lonceng.

Bunga Tangan Orchid (Anggrek)
Makna cinta dan keindahan melekat pada bunga yang berharga cukup mahal ini. Mudah ditemui sepanjang tahun, orchid yang tidak memiliki aroma cocok digunakan untuk bunga tangan pengantin dan korsase. Bunga eksotis ini hadir dengan berbagai bentuk dan pilihan warna.

Bunga Tangan Rose (Mawar)
Jenis bunga yang sangat populer di acara pernikahan ini mengandung makna cinta, kebahagiaan dan keindahan. Mawar adalah jenis bunga yang banyak digunakan pada rangkaian buket pengantin, korsase dan dekorasi gedung pernikahan. Mudah didapati sepanjang tahun, bunga mawar memiliki harga jual menengah hingga mahal.

Bunga Tangan Stephanotis
Pernikahan yang bahagia, itulah makna dari bunga berbentuk terompet yang menjadi bunga tradisional mempelai wanita. Bunga beraroma sangat harum ini mudah ditemui sepanjang tahun dan dijual dengan harga menengah.

Bunga Tangan Tulip
Jenis bunga yang banyak ditemui di akhir musim semi ini sangat cocok untuk dijadikan buket pengantin atau sebagai bagian dari dekorasi gedung pernikahan. Bermakna cinta dan gairah, bunga berbentuk megah dan cantik ini dapat ditemukan dalam berbagai warna. Sayangnya, bunga tulip dijual dikisaran harga yang cukup tinggi dan mudah hancur.

Jenis Bunga Yang Harus Dihindari Dalam Merangkai Bunga Tangan Pernikahan
Calon pengantin sebaiknya memiliki pengetahuan tentang hal ini untuk menghindari penggunaan bunga yang memiliki konotasi negatif pada rangkaian acara pernikahannya. Meskipun berpenampilan cantik dan menarik, beberapa jenis bunga ini sepatutnya dihindari, diantaranya adalah:
  • Christmas Rose >> Skandal
  • Fig >> Kemalasan
  • Foxglove >> Ketidaktulusan
  • Larkspur >> Ketidaksetiaan
  • Lavender >> Ketidakpercayaan
  • Marigold >> Kesedihan
  • Mulberry >> Saya tidak akan menyelamatkan Anda
  • Raspberry >> Penyesalan
  • Red Carnation >> Menyayangkan kemiskinan hati
  • Red Poppy >> Penghiburan
  • Rhododendron >> Berbahaya
  • Striped Carnation >> Penolakan
  • White Poppy >> Tidur
  • Yellow Carnation >>Penghinaan
  • Yellow Chrysanthemum >> Cinta yang diabaikan
  • Yellow Lily >> Dusta
  • Yellow Rose >> Kecemburuan (Smb/Theknot, easywedding)


Sumber: Kaskus
read more

SEJARAH KUE PENGANTIN

, by Unknown


Saat menghadiri acara pernikahan Internasional kita sering melihat adanya kue pengantin atau wedding cake. Semakin mewah pesta pernikahannya biasanya semakin tinggi dan cantik juga wedding cake yang disiapkan. Mungkin anda penasaran kenapa ada wedding cake saat acara resepsi tersebut. Berikut ini sejarah tentang wedding cake.
Permulaan di sajikan kue pengantin adalah pada acara pesta pernikahan pertama kali dilakukan di Inggris  sekitar pertengahan abad ke 15.  Saat itu kue dibuat dari bahan gandum dan dilempar ke arah pengantin perempuan sebagai simbol tentang kesuburan. Saat itu kue juga dihidangkan sebagai dessert.
Tidak hanya wedding cake tapi juga semua makanan yang dipanggang, yang termasuk scone dan biskuit, ditumpuk tinggi dan pasangan tersebut berusaha untuk mencium puncak kue. Semakin tinggi tumpukan maka semakin baik. Dalam ritual ini apabila pasangan dapat mencium puncak tertinggi kue tanpa menjatuhkannya diyakini bahwa pasangan akan dikaruniai kemakmuran.
Pada tahun 1600-an, seorang koki Prancis yang datang mengunjungi Inggris cukup terkejut dengan ritual menumpuk kue yangmenurutnya terlihat kurang rapi. Dia menyarankan menggunakan pegangan sapu sebagai tonggak penahan kue. Namun cara seperti itu tidak bertahan lama. Pada abad ke 17 kue penganting yang paling populer adalah Brad Pie.  Mulai dari pie manis hingga pai berisi daging kambing cincang. Pada saat itu, didalam pai dimasuki cincin imitasi dan merupakan hal yang ditunggu-tunggu bagi para tamu undangan yang masih lajang. Mereka meyakini jika mendapat cincin di dalam pai, merekalah calon pengantin selanjutnya.
Kue pengantin seperti yang kita lihat sekarang ini dibuat sejak abad ke 18 di London. Dimulai pada saat William Rich sedang magang dan mencintai putri bossnya. William terinspirasi keindahan puncak gereja St. Bride dan berusaha mengesankan wanita yang dicintainya tersebut dengan membuat kue yang besar dan indah. Dan wanita yang menjadi pujaan William pun terkesan dengan bentuk kue yang disajikan William karena berbeda dengan kue-kue lainnya yang biasanya disajikan dalam bentuk rata. Namun wedding cake bertingkat belum populer pada saat itu hingga tahun 1840. Wedding cake yang megah dan penuh dengan hiasan akhirnya menjadi wajib disajikan setelah disajikan pada pernikahan Ratu Victoria dan Pangeran Albert.
Akan tetapi sejak Perang Dunia pertama, pembagian bahan pokok pembuatan kue sangat ketat dan jumlah gula  untuk hiasan kue pengantin yang megah tidak mencukupi.  Akhirnya kue pernikahan dimodifikasi dengan buah dan kardus. Kue pengantin dibuat mengitari kardus yang menjadi rangka kue dan wedding cake masih terlihat mewah meskipun budget yang dimiliki terbatas.
read more

SEJARAH CINCIN PERNIKAHAN

, by Unknown


sejarah cincin pernikahan berawal dari Pharaohs of Egypt (pharaoh dari Mesir) yang menjadikan lingkaran sebagai simbol. Lingkaran merupakan sesuatu yang tidak memiliki akhir, mewakili simbol keabadian. Namun pada jaman Romawi lah cincin baru dijadikan sebuah simbol pernikahan.
cincin_pernikahan_belle1
Dan tahukan Anda, cincin pernikahan pertama berbahan dasar besi. Lalu mulai beralih menggunakan bahan emas karena bahan ini terlihat lebih indah dipadupadankan dengan permata. Simbol pertama yang paling terkenal sebagai penghias sebuah cincin pernikahan yaitu batu ruby merah yang menyimbolkan warna hati. Batu safir berwarna biru yang menandakan surga, namun yang paling didambakan dan tentunya populer tentu saja berlian, sebuah batu permata yang tidak dapat dihancurkan. Memiliki makna yang didambakan oleh semua pasangan bukan?
Berlian berasal dari bahasa Yunani,“adamas” memiliki arti “yang tidak dapat dikalahkan.” Sebagai salah satu kekayaan alam, berlian merepresentasikan kekuatan yang tidak terkalahkan, sebuah batu permata yang tentunya diidamkan oleh setiap calon pengantin, khususnya para calon pengantin wanita.
Orang Yunani kuno mempercayai berlian berasal dari bintang yang jatuh ke bumi dan berguna untuk melindungi pemakainya. Sedangkan di India, tempat pertama kali berlian ditemukan, mempercayai berlian mampu melawan setan atau mahluk jahat lainnya. Sedikit mirip dengan pemikiran para astrologer kuno yang mempercayai berlian dapat memberikan rasa cinta yang abadi, dan menjauhkan dari sihir juga mimpi buruk.
Sumber: Wedding Belle

read more

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GAYA GAUN PENGANTIN

, by Unknown

A. Sejarah Gaun Pengantin
Pada abad pertengahan, warna baju dan jenis bahannya digunakan sebagai penanda status sosial seseorang (Aini, 2009). Hanya kaum kerajaan dan bangsawan saja yang bisa menggunakan bahan sutera, satin, beludru, renda, dan menggunakan warna-warna “grandeur”, seperti emas, ungu dan biru. Hal ini karena pada masa itu, teknik penganyaman benang, teknik ekstraksi zat pewarna kain dan proses pewarnaan kain dilakukan secara manual dan karena bahan-bahan yang digunakan pun tergolong sulit diperoleh sehingga kain-kain indah tersebut tidak dapat diproduksi secara massal. Tak pelak pada masa itu, hanya gadis-gadis bangsawan yang akan merayakan pesta pernikahan mereka yang bisa mengenakan baju dan perhiasan berwarna “grandeur” tadi. Adapun gadis-gadis dari kasta sosial yang lebih rendah hanya bisa berusaha meniru bentuk baju dan penampilan para bangsawan yang menjadi trendsetter era itu. Jarang sekali mereka bisa menggunakan baju pernikahan dengan warna “grandeur” tersebut karena mahal.
Putih tetap tidak menjadi warna pilihan untuk gaun pengantin sampai tahun 1840, di mana Ratu Victoria mengenakan gaun pengantin putih saat menikah dengan Pangeran Albert of Saxe-Coburg (Yulis, 2010). Statusnya sebagai keluarga kerajaan sekaligus simbol gadis bangsawan ternama, membuat gaun pengantin putih mewah berhiaskan penuh renda Honiton Lace yang dikenakan oleh Ratu Victoria itu menjadi trendsetter berikutnya. Booming-nya gaun pengantin ala Ratu Victoria yang memiliki ciri khas gaun yang membentuk ballgown, warnanya putih kadang broken white, dan menonjolkan pinggang serta pinggul sang pengantin wanita itu menyebabkan naiknya permintaan terhadap bahan-bahan gaun putih mewah. Hal ini berdampak pada para pembuat bahan dan renda gaun pengantin kewalahan memproduksinya, karena di masa itu renda putih juga masih dibuat secara manual. Belum lagi gaun putih termasuk sulit dirawat karena kotoran yang menempel akan tampak jelas di situ. Akhirnya beberapa pengantin dari kelas sosial yang lebih rendah kembali mengenakan gaun pengantin dengan warna selain putih, kecuali warna hitam (warna berduka) dan warna merah menyala (warna yang kala itu, identik dengan the brothel house).
Sejak era Victorian itulah maka tradisi mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang menyimbolkan kesucian itu menjadi gaya yang selalu ditiru oleh para wanita. Meski kemudian tidak hanya warna putih plain saja yang dipilih, tetapi juga bisa dengan nuansa gradasi putih seperti creme, champagne, broken-white, off white and ivory. Sampai sekarang pun yang disebut-sebut sebagai era globalisasi, putih tetap lestari di kalangan para wanita sebagai pilihan utama warna baju pengantin. Putih seolah menjadi warna privilege dan memiliki cap “For Bride-Only” yang menyertainya untuk menjadi warna baju pengantin para pengantin wanita yang ingin tampil beda dan anggun di hari pernikahannya. Bahkan tidak hanya gaun pengantin modern ala Barat saja yang memakai putih sebagai “warna resmi”; di beberapa negara, baju pernikahan bernuansa adat seperti kebaya, baju kurung, kimono dan cheongsam pun turut mengadopsi warna putih. Sebuah pantun Inggris kuno berikut ini mencoba menggambarkan “nasib” yang dibawa oleh warna baju pengantin:
“Married in white, you will have chosen all right. Married in grey, you will go far away. Married in black, you will wish yourself back. Married in red, you’ll wish yourself dead.  Married in blue, you will always be true.  Married in pearl, you’ll live in a whirl. Married in green, ashamed to be seen. Married in yellow, ashamed of the fellow. Married in brown, you’ll live out of town. Married in pink, your spirits will sink.”

B. Perkembangan Gaya Gaun Pengantin
Dari sejarahnya, perkembangan gaya gaun pengantin ini kemudian tidak hanya meliputi perubahan orientasi dalam hal gaya berpakaian, tapi juga norma dan adat-adat yang nantinya akan membentuk sebuah budaya yang berujung pada peradaban. Terutama pertentangan antara budaya Timur dan Barat merupakan faktor yang menarik untuk dijadikan bahasa mengenai hegemoni dalam fenomena ini. Fenomena ini menjadi komoditas di era modern seperti sekarang, ditambah peran media yang ikut menyebarkan virus kapitalis, menyuburkan hal ini. Banyak media yang mengkhususkan diri membahas perkembangan fashion juga gaya hidup. Kemunculan media seperti ini membuat masyarakat menganggap wajar akan adanya kesadaran mereka dalam cara berpakaian. Kewajaran yang terbentuk, baik di alam bawah sadar maupun secara sadar, merupakan bukti kekuatan hegemoni yang dibangun oleh produsen-produsen merek pakaian ternama dunia.
Sebagaimana dipaparkan sebelumnya mengenai gaya, Nicos Hadjinicolaou menggambarkan gaya atau ’ideologi visual’ sebagai ’bentuk khusus dari ideologi menyeluruh suatu kelas’ (Walker, 2010: 169). Jika seseorang dapat memahami alasan untuk perubahan stalistik sepanjang waktu, dia juga memperoleh kunci untuk hukum evolusi kebudayaan. Pernyataan Hadjinicolaou ini nyatanya mengenai sasaran yang tepat saat ditempatkan pada  perkembangan gaun pengantin sebagai salah satu artefak fashion. Melalui paparan sejarahnya hingga perkembangannya di era globalisasi seperti saat ini, trend gaun pengantin saat ini tetap banyak menampilkan romantisme negeri dongeng yang kaya akan detail. Meski di Indonesia sendiri, beberapa individu tetap memilih mengenakan pakaian adat tradisional masing-masing daerah untuk dikenakan saat acara resepsi pernikahan mereka, namun tidak sedikit pula yang menambahkan gaun pengantin putih ala Viktorian sebagai salah satu kostum yang dikenakan ketika resepsi pernikahan mereka.
Nilai internasionalisme seolah menjadi bagian yang melekat pada desain yang ringan melayang serta sentuhan kain yang transparan melengkapi koleksi desain yang kini banyak dikeluarkan para desainer untuk gaun pengantin ala Viktorian. Warna-warna klasik seperti ivory dan champagne masih menjadi favorit, sedangkan siluet gaun mengarah kepada cutting yang lebih berani. Bahkan bagi mereka yang kurang berani memakai baju terbuka karena kesan seksi pun dapat memodifikasikannya dalam siluet tertutup yang jauh dari kesan mengumbar. Modifikasi terbaru yang kini menjadi trend adalah menggabungkan gaya gaun pengantin ala Viktorian dengan penggunaan jilbab atau gaya Timur Tengah (Arab/Turki) atau yang kini banyak disebut sebagai gaun pengantin muslimah. Walau terjadi perubahan namun kesan classy dan anggun masih tetap melekat pada setiap desainnya. Begitu pula bagi yang ingin memangkas gaun menjadi lebih pendek atau tidak menggelembung, semua bisa dikreasikan sesuai keinginan sang calon pengantin wanita.
Dari semua ini dipahami bahwa, kalaupun gaya gaun pengantin putih ala Barat tersebut menghegemoni ke seluruh wanita di dunia, namun mereka tetap bisa secara cerdas memilih bahkan tak ragu untuk memodifikasi gaya gaun tersebut sehingga sesuai dengan hati dan pikiran mereka. Modifikasi ini artinya, dari gaya utama gaun pengantin Viktorian itu, masih bisa ditambah atau dikurangi baik dari segi model, ukuran, bentuk, ornamen, maupun aneka kreasi desain lain. Hal ini karena tentunya dunia mode atau fashion akan selalu mengalami perubahan, namun tak pelak ada sebuah sistem yang akan terus mempengaruhi kelas masyarakat yang lain untuk menerima nilai-nilai moral, politis dan kultural. Konsep ini mengasumsikan sebuah konsen sederhana oleh mayoritas populasi untuk arah tertentu yang diusulkan oleh mereka dengan kekuatan. Produsen-produsen pakaian terkemuka dunia ini memang tidak begitu saja menghegemoni masyarakat. Mereka membentuk sebuah sistem yang disebut konglomerasi. Mereka bekerjasama dengan media, untuk menyebarkan pola pikir tersebut. Media merupakan alat yang paling tepat untuk menyebarkan pemikiran produsen pakaian dalam menghegemoni masyarakat. Dewasa ini semakin menjamur media yang mengkhususkan diri membahas mengenai perkembangan fashion, dan  mereka sebagian besar memiliki tingkat penetrasi yang tinggi ke berbagai belahan dunia.***


read more